Perbedaan BUS (Bank Umum Syariah) dan UUS (Usaha Unit Syariah)

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya Bank- Bank  Syariah yang hadir di Indonesia. Hampir semua Bank Konvensional memiliki Bank Syariah sebagai pendampingnya. Diantara Bank Syariah yang kita ketahui tidak semuanya berbentuk BUS (Bank Umum Syariah), masih ada bank syariah yang berbentuk UUS (Usaha Unit Syariah). Oleh karena itu pada artikel ini syariahbank.com akan berbagi sedikit informasi terkait perbedaan BUS dan UUS.

Perbedaan Bunga dan Margin

1. Definisi BUS dan UUS

BUS dan UUS memiliki definisi yang hampir serupa. Menurut UU No 21 tahun 2008 mengenai Perbankan Syaraih,

  1. Bank Umum Syariah (BUS) adalah bank syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa melalui lalu lintas pembayaran.
  2. Unit Usaha Syariah (UUS) adalah unit kerja dari kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.

2. Perbedaan Bank Umum Syaraih dan Unit Usaha Syariah

Perbedaan Bank Umum Syariah (BUS) dengan Unit Usaha Syariah (UUS) dapat dilihat dari Undang-Undang Peraturan Bank Indonesia no 11/3/pbi/2009 untuk Bank Umum Syariah dan 11/10/PBI/2009 untuk Unit Usaha Syaraiah.

a.Persyaratan Pembukaan

Bank Umum Syariah:

  • Memegang izin dari Bank Indonesia
  • Modal awal pembukaan sebesar 1.000.000.000.000 (satu triliyun rupiah)
  • Milik Warga Negara Indonesia/ Badan Hukum Indonesia/Pemerintah Daerah
  • Bagi bank asing yang membuka kantor cabang syariah dana disetor minimal Rp. 1 trilyun, yang dapat berupa rupiah atau valuta asing

Unit Usaha Syariah:

  • Memegang izin Bank Indonesia
  • Modal kerja minimal 100.000.000.000 (seratus miliyar rupiah), dan dalam bentuk tunai.
  • Pembukaan UUS harus masuk kedalam rencana kerja BUK. BUK yang telah mendapatkan izin usaha UUS wajib mencantumkan secara jelas frase “Unit Usaha Syariah” setelah nama BUK dan logo iB pada kantor UUS yang bersangkutan

b.Pimpinan BUS dan UUS

Bank Umum Syariah

  • Jumlah anggota Dewan Komisaris paling kurang 3 (tiga) orang dan paling banyak sama dengan jumlah anggota Direksi. Dimana anggota direksi dilarang memiliki saham melebih 25%
  • Satu dari dewan komisaris wajib tinggal di Indonesia
  • Paling kurang 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota Dewan Komisaris adalah Komisaris Independen
  • Adanya Dewan Pengawas Syariah
  • Adanya tes kemampuan dan kepatutan sebelum meilikih anggota direksi.

Unit Usaha Syariah

  • Penunjukan dan/atau penggantian Direktur yang bertanggung jawab penuh terhadap UUS (Direktur UUS) wajib dilaporkan oleh BUK paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pengangkatan dan/atau penggantian efektif.
  • Direktur dapat merangkap tugas BUK selama tidak ada benturan dan sebelumnya wajib mengikuti proses wawancara.
  • Dewan Pengawas Syariah paling kurang 2 orang paling banyak 3 orang untuk satu UUS.

c.Perubahan Nama Bank

Bank Umum Syariah

Perubahan nama Bank wajib dilakukan dengan memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan mendapat persetujuan dari BI dan diajukan dala waktu 30 hari setelah perubahan nama dan dalam kondisi persyaratan yang lengkap.

Unit Usaha Syariah

Perubahan nama harus meminta izin ke Bank Indonesia dan UUS wajib mencantumkan secara jelas nama dan jenis status kantor pada masing-masing kantornya. Serta,  UUS wajib mencantumkan logo iB pada masing-masing kantor, Layanan Syariah dan Kegiatan Pelayanan Kas Syariah

d. Pencabutan Izin Usaha

Bank Umum Syariah

  • Pencabutan uzin usaha harus berdasarkan rapat pemegang saham dan telah menyelesaikan semua urusan dengan nasabah.
  • Setelah urusan dengan nasabah selesai, Direksi mengajukan kepada Bank Indonesia dilengkapi dengan semua dokumen pendukung.

Unit Usaha Syariah

Pencabutan izin harus mendapatkan izin dari Bank Konvensional yang menaungi UUS dan telah menyelesaikan semua urusan dengan nasabah yang ada di UUS tersebut.

Itu tadi sedikit informasi yang dapat diberikan terkait perbedaan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS). Semoga informasi yang diberikan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan terkait Perbankan syariah. Apabila ada tambahan informasi terkait artikel ini dapat diberikan pada kolom komentar. Terimakasih telah berkunjung di syariahbank.com.

Add a Comment

histats