Akad dalam Pembiayaan Take over

Take over atau pengalihan utang adalah cara mengalihkan cicilan dari satu kreditur ke kreditur lain. Pada umumnya, Take Over dilakukan disaat kreditur merasa cicilan pembiayaan di bank pertama terlalu besar.  Selain itu, banyak juga yang melakukan pemindahan pembiayaan karena ingin beralih ke Bank Syariah.

Pada Bank Syariah produk Take Over pembiayaan ini dilandasi oleh Fatwa DSN MUI No 31/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Penagihan Utang. Dalam fatwa ini dijelaskan terkait akad-akad yang digunakan untuk menjalankan pengikatan pembiayaan.

Akad dalam Pembiayaan Take Over

Untuk lebih jelas berikut beberapa rangkuman informasi dalam Fatwa DSN MUI No 31/DSN-MUI/VI/2002 terutama akad yang digunakan. Ada beberapa alternatif dalam melakukan proses take over, berikut beberapa alternatif beserta akad yang dapat digunakan.

Alternatif I

  • Bank memberikan qardh kepada nasabah. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (utang)-nya; dan dengan demikian, asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh.  
  • Nasabah menjual aset kepada Bank, dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qard-nya kepada Bank.
  • Bank menjual secara murabahah aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah, dengan pembayaran secara cicilan.

Alternatif II

  • Bank membeli sebagian aset nasabah, dengan seizin LKK sehingga dengan demikian, terjadilah syirkah al-milk antara Bank dan nasabah terhadap asset tersebut.
  • Bagian asset yang dibeli oleh Bank adalah bagian asset yang senilai dengan utang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK.
  • Bank menjual secara murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah, dengan pembayaran secara cicilan.

Alternatif III

  • Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas aset, nasabah dapat melakukan akad Ijarah dengan Bank.
  • Apabila diperlukan, Bank dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh.
  • Akad Ijarah tidak boleh dipersyaratkan dengan (harus terpisah dari) pemberian talangan.
  • Besar imbalan jasa Ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan yang diberikan Bank kepada nasabah.

Alternatif IV

  • Bank memberikan qardh kepada nasabah. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (utangnya) dan dengan demikian, asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh.
  • Nasabah menjual aset kepada Bank, dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardh-nya kepada Bank.
  • Bank menyewakan asset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah, dengan akad IMBT.

Itu tadi informasi terkait Akad dalam Pembiayaan Take Over. Semoga dapat memberikan tambahan informasi. Terimakasih.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.