Contoh Akad Mudharabah

Bagi anda yang masih bingung pengaplikasian akad mudharabah dalam kehidupan sehari-hari. Berikut informasi terkait Contoh Akad Mudharabah.

Pada artikel sebelumnya, syariahbank.com telah berbagi informasi terkait Akad Mudharabah dalam Jual beli. Akan tetapi dalam penjelasannya belum dicantumkan contoh pengaplikasian.

Akad Murabahah merupakan Akad Kerjasama antar pihak pertama (Malik, Shahibulmal, atau Nasabah) sebagai pemilik dana dengan pihak kedua (‘amil, mudharib, atau Bank Syariah) yang berperan sebagai pengelola dana dengan membagikan keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam Akad. Pembiayaan Mudharabah telah diatur dalam fatwa DSN MUI No 07/DSN-MUI/IV/2000, sedangkan untuk Akad Mudharabah secara keseluruhan diatur dalam fatwa DSN MUI No 115/DSN-MUI/IX/2017.

Contoh Akad Mudharabah

Agar dapat lebih memahami, berikut beberapa contoh penggunaan Akad Mudharabah dalam kehidupan sehari-hari:

Shahibul maal yang bermitra dengan mudharib untuk usaha percetakan selama 6 bulan. Shahibul Maal memberikan uang untuk modal usaha sebesar Rp. 30 juta. Dan kedua belah pihak sepakat dengan nisbah bagi hasil 40:60 (40% keuntungan untuk shahibul maal).

Setelah menjalankan usaha selama 6 bulan, modal usaha telah berkembang menjadi Rp. 50 juta, sehingga mudharib memperoleh keuntungan sebesar Rp. 20 Juta (Rp. 50 juta – Rp. 30 Juta). Maka, sesuai perjanjian yang telah dibuat diawal shahibul maal berhak mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 8 Juta (40% x Rp. 20 juta). Dan sisanya sebesar Rp. 12 juta menjadi hak mudharib.

Contoh lainnya yang dapat diterapkan dalam penggunaan Akad Mudharib yaitu:

Pemilik Modal atau Shahibul maal membuat akad mudharabah dengan mudharib antara dengan modal usaha Rp 30 juta dan kesepakatan nisbah bagi hasil dianatara keduanya sebesar 50:50. Dan jangka waktu selama 6 bulan.

Lalu, Mudharib antara kemudian membuat perjanjian mudharabah dengan mudharib akhir yang akan mengelola usaha konveksi, dengan jangka waktu selama 6 bulan. Kedua belah pihak membuat kesepakatan nisbah bagi hasil diantara keduanya sebesar 40:60 (40% untuk mudharib antara).

Pada Akhir masa akad mudharabah atau setelah 6 bulan, keuntungan mudharib akhir adalah Rp. 20 Juta, maka bagian keuntungan mudharib antara adalah Rp. 8 juta (40% x Rp. 20 juta).

Dikarenakan adanya perjanjian awal dengan Pemilik Modal (Shahibul Maal), maka pendapatan yang diterima Mudharib antara harus dibagi dengan shahibul maal sebesar perjanjian nisbah yang disepakati. Sehingga diakhir perjanjian shahibul maal memperoleh pendapatan bagi hasil sebesar Rp. 4 juta (yaitu 50% x Rp. 8 juta).

Itu tadi sedikit informasi terkait Contoh Akad Mudharabah dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diterapkan. Semoga dapat menambah informasi Anda. Terimakasih.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.