Fatwa DSN MUI Atas Nasabah Yang Mampu Namun Menunda-Nunda Pembayaran

Pemberian denda kepada nasabah pembiayaan bank syariah mungkin tidak jarang Anda dengar beritanya. Hal ini terkadang menjadi pertanyaan dikhalayak umum, mengapa bank syariah tetap memberikan denda kepada nasabah.

Keadaan tersebut sering kali menjadi pertimbangan para calon nasabah pembiayaan untuk mengambil layanan produk pembiayaan di bank syariah. Karena, yang dimengerti oleh masyarakat adalah pembiayaan di bank syariah tidak akan dikenakan denda.

Tahukah Anda, pada dasarnya bank syariah memberikan denda kepada beberapa nasabah pembiayaan dikarenakan nasabah melakukan penundaan pembayaran padahal mampu. Hal ini berdasarkan Fatwa DSN MUI No. 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-Nunda Pembayaran.

Berdasarkan Fatwa tersebut ada beberapa ketentuan sehingga bank dapat memberikan denda. Antara lain:

  • Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan Bank kepada nasabah yang mampu membayar, tetapi menunda-nunda pembayaran dengan disengaja.
  • Nasabah yang tidak atau belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi.
  • Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi.
  • Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir, yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.
  • Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani.
  • Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.

Mengenai dana yang didapat bank atas denda yang diberikan kepada nasabah akan disalurkan ke pihak Badan Mal atau pengumpul zakat shadaqah. Jadi dana yang didapat tidak diperbolehkan untuk keberlangsungan bisnis.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.