Fatwa DSN MUI Atas Uang Muka Pembiayaan Bank Syariah

Pembayaran uang muka dalam melakukan pembiayaan di Bank sudah menjadi hal umum dilakukan, begitu pula pembiayaan di bank syariah. Hal ini bisa ditemukan dalam pembiayaan pembelian rumah atau kendaraan bermotor.

Namun, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan hukum mebayar uang muka dalam pembiayaan di bank syariah. Apakah termasuk riba atau tidak.

Untuk menjawab pertanyaan masyarakat, pihak Dewan Syariah Nasional sebenarnya telah mengahadirkan ketentuan atas Uang Muka pembiayaan di bank syariah. Hal ini tercantum dalam Fatwa DSN MUI No: 13/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Uang Muka Dalam Murabahah.

Ketentuan Uang Muka Dalam Murabahah

Dalam mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihak MUI telah menetapkan beberapa ketentuan atas Uang Muka dalam pembiayaan di Bank Syariah, terutama Pembiayaan Murabahah. Berikut beberapa ketentuan tersebut:

Ketentuan Umum Uang Muka

  • Dalam akad pembiayaan murabahah, Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.
  • Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.
  • Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut.
  • Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian, LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah.
  • Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian,
  • LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah.

Ketentuan selanjutnya adalah : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Itu tadi ketentuan Uang Muka dalam Pembiayaan Murabahah berdasarkan Fatwa DSN MUI. Semoga dapat menambah informasi Anda.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.