Fatwa DSN MUI Ganti Rugi Dalam Peminjaman di Bank Syariah

Istilah Ganti rugi dalam pembiayaan di Bank Syariah mungkin pernah anda dengar ketika membaca berita di media. Dan tak jarang,media menggiring beberapa opini atas peraturan ini dalam beritanya. Agar Anda lebih mengerti dan memahami, berikut beberapa informasi terkait Ganti Rugi Dalam Peminjaman di  Bank Syariah.

Berdasarkan DSN MUI No 129/DSN-MUI/VII/2019 Tentang Biaya Riil sebagai Ta’widh Akibat Wanprestasi yang mengacu pada DSN MUI No. 43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ganti Rugi (Ta’widh) ,  Ta’widh (Ganti Rugi) adalah sejumlah uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang yang dibebankan kepada seseorang atau badan karena melakukan wanprestasi.

Sedangkan Wanprestasi atau cidera janji adalah melakukan sesuatu yang tidak boleh/tidak semestinya dilakukan (al-ta’addi), tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan (al-taqshir), atau menyalahi apa yang telah disepakati (mukhalafat al-syuruth).

Adapun bentuk-bentuk dari cidera janji antara lain:

  1. Tidak membayar kewajiban sama sekali.
  2. Membayar kewajiban tepat waktu tapi jumlahnya kurang dari yang disepakati.
  3. Membayar kewajiban dengan jumlah yang sesuai dengan kesepakatan tapi melampaui waktu yang disepakati.
  4. Membayar kewajiban melampaui waktu yang disepakati dengan jumlah yang kurang dari yang disepakati.
  5. Meliputi antara lain tidak menunaikan kewajiban baik berupa utang (al-dain), ujrah, realisasi bagi hasil atas keuntungan usaha yang nyata menjadi hak LKS maupun kerugian akibat dari tidak jadinya akad yang didahului pemesanan (wa’d) pembelianbarang.

Ketentuan Umum Ganti Rugi

Berdasarkan fatwa Dewan MUI melalui DSN MUI No. 43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ganti Rugi (Ta’widh) ada beberapa ketentuan Ganti Rugi yang harus diketahui, antara lain:

  • Ganti rugi (tawidh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain.
  • Kerugian yang dapat dikenakan ta’widh adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas.
  • Kerugian riil adalah biaya-biaya riil yg dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yg seharusnya dibayarkan.
  • Besar ganti rugi (tawidh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang.
  • Ganti rugi (ta`widh) hanya boleh dikenakan pada transaksi (akad) yang menimbulkan utang piutang (dain), seperti salam, istishna’ serta murabahah dan ijarah. Dalam akad Mudharabah dan Musyarakah, ganti rugi hanya boleh dikenakan oleh shahibul mal atau salah satu pihak dalam musyarakah apabila bagian keuntungannya sudah jelas tetapi tidak dibayarkan.

Ketentuan Khusus Ganti Rugi

Adapun ketentuan khusus dalam pemberian ganti rugi antara lain:

  • Ganti rugi yang diterima dalam transaksi di Bank dapat diakui sebagai hak (pendapatan) bagi pihak yang menerimanya.
  • Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya tergantung kesepakatan para pihak.
  • Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad.
  • Pihak yang cedera janji bertanggung jawab atas biaya perkara dan biaya lainnya yang timbul akibat proses penyelesaian perkara.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.