Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai

Saat ini, semakin banyak cara bermunculan agar seseorang dapat mendapatkan emas. Ada banyak pendapat pula mengenai hukum melakukan jual beli Emas secara tidak tunai. Lalu pendapat mana kah yang harus dipegang?

Di Indonesia jual beli emas secara tidak tunai dapat kita temui salah satunya di Penggadaian, yaitu produki Menabung Emas. Dan juga terdapat beberapa produk menabung emas lainnya di beberapa Bank Syariah.

Lalu, apakah mereka sudah memegang izin untuk mengeluarkan produk tersebut? Jawabannya adalah sudah. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan FATWA MUI No 77/DSN-MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas secara tidak tunai. Fatwa ini menjadi landasan pihak tersebut mengeluarkan dan menjalankan produk menabung Emas.

Mengenai hukum jual beli emas secara tidak tunai atau angsuran, terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Hal ini dapat kita lihat dalam FATWA MUI No 77 sebagai berikut:

Dilarang atau Haram

Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama dengan argumen yang berbeda-beda baik dari mahzab hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dan argumen yang paling menonjol untuk mengaharamkan transaksi ini adalahbahwa uang kertas dan emas adalah tsaman (harga, uang). Dan tsaman itu tidak boleh diperjualbelikan kecuali secara tunai. Salah satu hadist dalam riwayat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda: “ Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali dengan ukuran yang sama, dan janganlah menjual emas yang gha’ib (tidak diserahkan saat itu) dengan emas yan tunai.”(HR. Al-Buhkari)

Diperbolehkan

Pendapat ini dipegang oleh ulama masa sekarang, salah satunya Syeikh Abdurahman As-Sa’idi. Selaini tu juga dipegang oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan ulama kontemporer lain yang sependapat. Salah satu yang memperkuat adalah penjelasan dari Ibnu Taymiyah menyatakan dalam kitab al-Ikhtiyarat : “Boleh melakukan jual beli perhiasan dari emas dan perak dengan jenisnya tanpa syarat harus sama kadarnya (tamatsul), dan kelebihannya dijadikan sebagai kompensasi atas jasa pembuatan perhiasan, baik jual beli itu dengan pembayaran tunaimaupun dengan pembayaran tangguh, selama perhiasan tersebut tidak dimaksudkan sebagai harga (uang).

Di Indonesia sendiri, sesuai dengan Fawa MUI No 77 tersebut, praktek jual beli emas secara tidak tunai diperbolehkan,namun terdapat syarat dan akadnya. Akan tetapi, masih banyak pula yang meragukan peraturan terseut dan mengikuti hadist nabi yang melarang praktek jual beli emas tidak tunai.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.