Macam Jenis Akad Tabungan di Bank syariah

Bank Syariah bukan lagi menjadi bank dengan konsep baru di Indonesia, hal ini dikarenakan sudah hampir 24 tahun Bank Syariah berdiri di Indonesia. Akan tetapi walaupun sudah lama berdiri, masih terdapat beberapa masyarakat yang belum mengetahui beberapa istilah di dalam dunia perbankan syariah. Salah satu istilah yang digunakan di Bank Syariah yang menjadi pembeda di bank Konvensional adalah penggunaan Akad dalam setiap pembukaan atau transaksi keuangan (pembukaan tabungan dan investasi serta peminjaman).  Jenis akad yang digunakan akan membedakan bentuk transaksi yang dilakukan.

Akad secara luas memiliki arti perikatan antara ijab dan qabul. Atau dapat juga diartikan sebagai segala tindakan orang yang dilakukan dengan niat meskipun hanya sepihak tanpa adanya pihak lain (hibah, wakaf, dll). Pengertian lainnya dari Akad yaitu perikatan yang dilakukan antara pihak Bank dan Nasabah dengan cara yang disyariatkan, dimana memiliki dampak hukum sesuai dengan perikatan yang dibuat pada objeknya. Sedangkan menurut Undang-Undang, akad merupakan kesepakatan tertulis antara Bank Syariah dan pihak lain yang memuat hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan Prinsip Syariah.

Akad Bank Syariah

 

Secara lengkapnya, Akad adalah ikatan atau kesepakatan antara nasabah dengan bank yang berupa pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan Kabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada objek perikatan, misalnya akad pembukaan rekening simpanan atau akad pembiayaan.

Ada beberapa jenis akad di dunia perbankan syariah.  Akan tetapi saat ini kita akan membahas mengenai dua jenis akad yang pada umumnya digunakan untuk menentukan jenis tabungan yang akan dibuka di bank syariah tersebut, yaitu akad Mudharabah dan Akad Wadiah.

1. Akad Mudharabah

BACA JUGA:  Sumber Dana Pada Bank Syariah (Part III)

Akad ini merupakan Akad Kerjasama antar pihak pertama (Malik, Shahibulmal, atau Nasabah) sebagai pemilik dana dengan pihak kedua (‘amil, mudharib, atau Bank Syariah) yang berperan sebagai pengelola dana dengan membagikan keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam Akad. Ada dua jenis akad mudharabah di perbankan syariah, yaitu

  1. Mudharabah Mutlaqah, yaitu akad yang dilakukan antara pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola (mudharib) dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal.
  2. Mudharabah Muqayyadah, yaitu akad yang dilakukan antara pemilik modal untuk usaha yang ditentukan oleh pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola (mudharib), dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal untuk dibagi bersama, sedangkan kerugiannya ditanggung oleh pemilik modal. Dalam terminologi perbankan syariah ini lazim disebut Special Investment.

Akad ini pada umumnya digunakan untuk pembukaan rekening tabungan sehari-hari, deposito, giro, dan produk tabungan lainnya.

2. Akad Wadiah

Akad ini dapat disebut dengan Akad Penitipan. Artinya akad yang digunakan dalam transaksi penitipan dana atau barang dari pihak pertama dengan pihak kedua yang diberikan kepercayaan untuk menyimpan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang. Untuk wadiahnya sendiri,  ada beberapa defenisi yang dikemukan oleh ulama. Dua diantaranya menurut ulama fiqih,

Pertama menurut ulama mahzab hanafi wadiah adalah mengikut sertakan orang lain dalam memelihara harta baik dengan ungkapan kelas maupun syarat. Kedua, menurut ulama mahzab Syaf’i dan Maliki yang mendefinisikan wadiah yaitu mewakilkan orang lain memelihara harta tertentu dengan cara tertentu.

Begitu pula dengan akad wadiah, ada dua jenis dari akad ini, yaitu:

  1. WadiahYad-Dhamanah, yaitu perjanjian dimana si penerima titipan dapat memanfaatkan barang yang dititipkan seizin pemiliknya dan menjamin untuk mengembalikan titipan terasebut secara utuh kapanpun si pemiliknya menginginkannya. Contohnya, salah satu tabungan di beberapa bank syariah.
  2. WadiahYad-Amanah, berbeda dengan wadiah yad-dhamanah, pada akad ini penerima titipan tidak bertanggung jawan atas kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada barang titipan, selama hal tersebut bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan penerima titipan dalam memelihara barang yang dititipkan tersebut. Contohnya save deposit box.
BACA JUGA:  Mengenal Bilyet Giro dan Syarat Sah

Itu tadi dua jenis akad atau perjanjian yang biasa digunakan untuk produk tabungan di dalam perbankan syariah. Semoga dapat membantu kita untuk lebih memahami mengenai dunia Bank Syariah.

Add a Comment