Mengenal Kredit dalam Islam (Part II)

Melanjuti artikel terkait Mengenal Kredit dalam Islam yang telah di publish sebelumnya. Pada artikel ini syariahbank.com akan memberikan informasi terkait hal-hal yang harus diperhatikan dan juga rukun yangn harus diketahui dalam melakukan transaksi kredit agar tetap Halal.

Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan Kredit

Dalam melakukan transaksi jual beli secara kredit, ada beberapa ha yang harus diperhatikan secara rinci dan dipahami. Antara lain:

  1. Objek yang akan digunakan dalam transaksi bukan merupakan komoditas ribawi yang sejenis dengan alat tukar

Dalam hadist Nabi disebutkan ““Menukarkan emas dengan emas, perak dengan perak, gandum burr dengan gandum burr, gandum sya’ir dengan gandum sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam adalah termasuk akad riba, kecuali dengan dua syarat:

  • Sama ukurannya
  • Dan dilakukan secara tunai (cash)

Namun, Jika jenisnya berbeda (dan masih dalam satu kelompok) maka tukarlah sekehendakmu dengan satu syarat, yaitu harus diserahkan secara tunai” (HR Muslim).

Ulama membagi komoditi ribawi menjadi dua kelompok, yaitu:

  • Kategori barang yang menjadi alat tukar atau standar harga, seperti emas, perak, uang , dll.
  • Kategori bahan makanan pokok yang tahan lama, seperti: gandum, kurma, beras, dll.
  1. Tidak boleh dilakukan penundaan serah terima barang

Penundaan serah terima barang dalam akad kredit tidak diperbolehkan. Hal ini dikarenakan transaksi tersebut dapat termasuk kedalam kategori jual beli hutang dengan hutang. Transaksi demikian termasuk kedalam transaksi haram. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan di dalam sebuah hadis dari Ibnu ‘Umar mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli hutang dengan hutang.” (HR. Hakim: 2343)

  1. Harga harus telah disepakati diawal transaksi, walaupun untuk pelunasan dilakukan dikemudian hari. Begitu pula dengan waktu atau tempo pelunasan harus didisepakati di awal perjanjian.
  2. Tidak adanya perhitungan bunga atau penambahan nilai manfaat apabila pelunasan mengalami keterlambatan (denda).
  3. Tidak adanya perubahan harga selama proses pembayaran berlangsung. Dan tidak adanya dua haraga yang berlaku dalam arti belum terjadi akad yang jelas sebelum meninggalkan transaksi jual beli kredit.

Rukun dan syarat jual beli kredit

Dalam melakukan jual beli secara kredit ada beberapa hal yang harus diperhatikan , dan yang paling utama adalah barang dan harga yang jelas serta waktu pembayaran yang jelas. Karena apabila  tidak ada kejelasan dalam sistem kredit, maka transaksi menjadi haram karena ada unsur jahalah (ketidak jelasan dalam sebuah transaksi).

Adapun rukun dan syarat dari kredit antara lain:

  1. Adanya pihak yang memberikan pinjaman dan pihak yang meneima pinjaman yang memiliki kecakapan untuk melakukan tindakan hokum.
  2. Barang yang dipinjam disyaratkan berbentuk barang yang dapat diukur atau diketahui jumlah atau nilainya. Dalam satu buah hadist Rasulullah SAW bersabda : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jemawut denga jemawut, kurma dengan kurma, garam engan garam, harus dilakukan dengan takaran yang sama atau ukuran yang sama secara kontan dari tangan ke tangan.” (HR. Muslim 1587). Keenam barang ini dan yang sejenisnya adalah yang tidak diperbolehkan kredit dan harus secara kontan.
  3. Adanya lafaz atau akad, yaitu pernyataan ijab qabul dari kedua belah pihak yaitu peminjam dan penerima pinjaman.

Itu tadi sedikit informasi terkait jual beli kredit dalam islam. Semoga dapat menambah informasi terkait transaksi kredit, sehingga dapat mengurangi transaksi riba dalam kehidupan kita sehari-hari

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.