Mengenal Kredit dalam Islam (Part I)

Semakin berkembangnya teknologi dan gaya hidup masyarakat saat ini menyebabkan peningkatan pembelian barang ataupun kebutuhan yang termasuk kategori sekunder. Oleh karena itu , untuk memebuhi kebutuhan tersebut pihak bank, personal, ataupun lembaga keuangan lainnya menyediakan fasilitas kredit. Pada artikel ini, syariahbank.com akan sedikit berbagi informasi terkait Mengenal Kredit dalam Islam.

Pengertian

Kredit memiliki pengertian dari segi bahasa yaitu kepercayaan, nama baik, atau pinjaman uang. Kredit berasal dari kata “Creditum” yang artinya kepercayaan akan kebenaran. Dalam bahasa arab disebut تقسيط     secara bahasa berarti bagian, jatah atau membagi-bagi.

Pengertian lainnya tertulis di Undang-undang No 10 Tahun 1989, yang mana kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga

Secara luasnya KREDIT memiliki pengertian kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman antara dua pihak dengan jangka watu pelunasan yang telah disepakati.

Pendapat terkait Jual Beli kredit

Pada dasarnya masih terdapat perbedaan pendapat di beberapa ulama mengenai hokum kredit atau jual beli kredit. Hal ini dikarenakan adanya penambahan harga akibat penundaan pembayaran atau pelunasan. Akan tetapi pada dasarnya, jual beli secara kredit boleh dilaksanakan dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Beberapa pendapat yang membolehkan jual beli secara kredit

 Firman Allah Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

Ayat di atas adalah dalil bolehnya akad utang-piutang, sedangkan akad kredit merupakan salah satu bentuk utang, sehingga keumuman ayat di atas bisa menjadi dasar bolehnya akad kredit.

BACA JUGA:  Pengertian Riba dalam Islam dan Macam-macam Riba

Hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

Beliau mengatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran dihutang dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.” (HR. Bukhari:2096 dan Muslim: 1603)

Dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli bahan makanan dengan sistem pembayaran dihutang, itulah hakikat kredit.

Fiqh Hanafiyah, harga bisa dinaikkan karena penundaan waktu. Penjualan kontan dengan kredit tidak bisa disamakan. Karena yang ada pada saat ini lebih bernilai dari pada yang belum ada. (Lihat Badai’ush Shana’I 5/187)

Fiqh Malikiyah, berkata Imam Syathibi : “Penundaan salah satu alat tukar bisa menyebabkan pertambahan harga.” (Lihat Al Muwafaqat 4/41)

Imam Zarqani menegaskan : “Karena perputaran waktu memang memiliki bagian nilai, sedikit atau banyak, tentu berbeda pula nilainya. (Lihat Hasyiyah Az Zarqani 3/165)

Fiqh Syafi’iyah, Imam Syirazi berkata : “Kalau seseorang membeli sesuatu dengan pembayaran tertunda, tidak perlu diberitahu harga kontannya, karena penundaan pembayaran memang memiliki nilai tersendiri.” (Lihat Al Majmu An Nawawi 13/16)

Fiqh HanbaliIbnu Taimiyah berkata : “Putaran waktu memang memiliki jatah harga.” (Majmu’ Fatawa 19/449)

Untuk penjelasan selanjutnya silahkan baca “Mengenal Kredit dalam Islam (Part II).

Add a Comment