Prinsip Bank Syariah

Dalam menjalankan industri perbankan syariah, pihak pembisnis harus mengetahui prinsip bank syariah yang harus dipegang agar tetap dapat berjalan sesuai syariah yang telah di tetapkan. Menurut Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 pasal 1 ayat 12 tentang perbankan syariah, prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa dibidang syariah. Sedangakan dalam undang-undang No 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 13 tentang Perbankan telah disebutkan pengertian prinsip syariah dan juga apa saja prinsip-prinsip dalam perbankan syariah.

Adapun penjelasan dari undang-undang ini yaitu:

“prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan danadan atau pembiayaan kegiatan usah, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil  (mudharabah), pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah). Atau dengan adanya kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak kita (ijarah wa iqtina).”

Prinsip Bank Syariah

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, terdapat lima prinsip dalam perbankan syariah. Pada artikel sebelumnya, admin pernah menjelaskan prinsip-prinsip tersebut dalam artikel akad. Akan tetapi untuk mengingatkan kembali dan sedikit menambah info yang ada, akan admin jabarkan ulang.

Prinsip Perbankan Syariah

1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah)

Mudharabah merupakan perjanjian kerjasama antara pemilik modal dengan pengelola modal, dimana keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan, dan kerugian ditanggung oleh pemilik modal selama bukan merupakan kelalaian dari pihak pengelola modal.

Ada dua jenis akad mudharabah, yaitu

  • Mudharabah Mutlaqah adalah bentuk kerjasama antara pemilik dana dengan pengelola dana dengan cakupan yang luas dan tidak memiliki batas baik jenis usaha, waktu dan daerah bisnis yang digeluti yang tetap sesuai dengan syariah islam.
  • Mudharabah Muqayyah adalah kerjasama antara pemilik dana dan pengelola dana yang terdapat batasan jenis dan daerah bisnis usaha sesuai yang telah disepakati.

2. Pembiayaan berdasarkan penyertaan modal (Musyarakah)

Musyarakah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam suatu usaha, dimana masing-masing pihak berhak atas keuntungan yang didapat sesuai dengan porsi modal yang dikeluarkan.

Akad musyakarah sendiri ada beberapa jenis, yaitu:

  • Musyarakah Muwafadah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih pada suatu objek dengan syarat jumlah modal dan porsi kerja yang sama diantara pihak-pihak yang bekerjasama.
  • Musyarakah Al-Inan, yaitu kerjasama dalam bentuk modal suatu perdagangan antara pihak-pihak tertentu, dimana besar modal yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan tidak harus sama.
  • Musyarakah Al-Wujuh, adalah bentuk kerjasama usaha yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dimana mereka tidak memiliki modal, lalu membeli barang dengan cara kredit dan menjualnya dengan cara tunai, sedangkan untuk keuntungan dibagi
  • Musyarakah Al-Abdan adalah kerjasama anatara dua orang atau lebih yang hanya melibatkan tenaga atau keahlian tanpa mengikutsertakan kerjasama modal. Contohnya dalam suatu usaha perumahan terjalin kerjasama antara Fulan A sebagai tukang bangunan dengan Fulan B sebagai tukang jendela dan pintu.
  • Musyarakah Al Milk memiliki pengertian kepemilikan bersama atas suatu aset, dimana salah seorang mitra tidak dapat menggunakan atau menjual aset sebelum mendapatkan persetujuan dari pihak lainnya.. contohnya dalam hal ahli waris.

3. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (Murabahah)

Murabahah adalah perjanjian jual beli anatara pihak bank dan pihak nasabah, dimana pihak bank membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah lalu menjualnya ke nasabah dengan adanaya penambahan keuntungan sebesar yang telah disepakati oleh kedua belah pihak diawal perjanjian.

Pada laman fileperbankansyariah.blogspot, didapatka ada dua jenis akad Murabahah, yaitu:

  • Murabahah berdasarkan pesanan

Murabahah ini dapat bersifat mengikat ataupun tidak bersifat mengikat. Bersifat mengikat apabila barang yang dipesan harus dibeli oleh pembeli., dan bersifat tidak mengikat apaila barang yang sudah dibeli dapat tidak jadi dibeli atau dibatalkan dikarenakan alasan tertentu.

  • Murabahah tanpa pesanan

Penjualan yang besifat tidak menikat. Penjualan ini dilakukan tidak melihat ada atau tidak barang dipesan, sehingga dalam pemasokan barang dilakukan sendiri menurut prediksi penjual.

4. Pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah)

Ijarah adalah perjanjian pemindahan hak guna atas ojek atau jasa dengan adanya biaya sewa tanpa adanyapemindahan kepemilikan dari ojek tersebut.

5. Pembiayaan dengan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak kita (Ijarah Wa Iqtina)

Ijarah Wa iqtina adalah perjanjian pemindahan hak guna atas objek atau jasa dengan adanya pembayaran upah sewa beli, yang diikuti dengan pemindahan kepemilikan pada waktu yang telah disepakati di awal perjanjian.

Sumber: Bi.go.id, m.kompasiana.com/post/read/704646/1/keunggulan-sistem-perbankan-syariah-perbandingan-dengan-system-konvensional.html, banksyariah.net, dan wikipedia.org

Sebagai tambahan, dikutip dari Wikipedia.com, menurut Azalur Rahman (Wikipedia) dalam bukunya Islamic Doctrine of Banking and Insurance (1980) prinsip perbankan syariah bertujuan membawa kemaslahatan bagi nasabah karena menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam sistem ekonomi. Itu tadi sedikir penjelasan mengenai  prisip perbankan syariah. Semoga dapat membantu menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai perbankan syariah.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.