Rukun dan Syarat Akad Ijarah

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan terkait pengertian, dan landasan dari akad ijarah. Akan tetapi untuk mengembalikan ingatan, akan dijelaskan kembali sedikit terkait pengertian akad ijarah.

Menurut fatwa DSN-MUI No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah, menyebutkan bahwa ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri

Rukun dan Syarat Akad Ijarah

Setiap akad yang akan digunakan dalam islam ada rukun dan syarat yang harus dilengkapi dan dilakukan.  Rukun dan syarat yang dijabarkan pada artikerl ini ini diambil dari DSN-MUI No.09/DSN-MUI/IV/2000, berikut diantaranya:

  • Shighat

Akad Ijarah harus dinyatakan secara tegas dan jelas serta dimengerti oleh Mu’jir atau Ajir dan Musta’jir. Kemudian, akad Ijarah boleh dilakukan secara lisan, tertulis, isyarat, dan perbuatan atau tindakan, serta dapat dilakukan secara elektronik sesuai syari’ah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  • Mu’jir, Musta’jir dan Ajir

Akad Ijarah boleh dilakukan oleh orang maupun yang dipersamakan dengan orang baik berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pihak Mu’jir, Mustajir, dan Ajir wajib cakap hukum sesuai dengan syari’ah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mu’jir wajib memiliki kewenangan (wilayah) untuk melakukan akad ijarah baik kewenangan yang bersifat ashliyyah maupun niyabiyyah, memiliki kemampuan untuk menyerahkan manfaat dan memiliki kemampuan untuk membayar ujrah. Selanjutnya, pihak Ajir wajib memiliki kemampuan untuk menyerahkan jasa atau melakukan perbuatan hukum yang dibebankan kepadanya.

  • Mahall al-Manfa’ah dalam Ijarah ‘ala al-‘Ayan

Mahall al-manfa’ah harus berupa barang yang dapat dimanfaatkan dan manfaatnya dibenarkan (tidak dilarang) secara syari’ah yang selanjutnya harus dapat diserah terimakan pada saat akad atau pada waktu yang disepakati dalam akad ijarah maushufahfi al-dzimmah.

  • ‘Amal yang dilakukan Ajir

‘Amal (pekerjaan atau jasa) yang dilakukan Ajir harus berupa pekerjaan yang dibolehkan menurut syari’ah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. ‘Amal yang dilakukan Ajir harus diketahui jenis, spesifikasi, dan ukuran pekerjaannya serta jangka waktu kerjanya, harus berupa pekerjaan yang sesuai dengan tujuan akad. Musta’jir dalam akad ijarah ‘ala al-a’mal, boleh menyewakan kembali kepada pihak lain, kecuali tidak diizinkan (dilarang) oleh Ajir atau peraturan perundang-undangan. Ajir tidak wajib menanggung risiko terhadap kerugian yang timbul karena perbuatan yang dilakukannya, kecuali karena al-ta’addi, al-taqshir, atau mukhalafat al – syuruth.

Itu tadi informasi terkait rukun dan syarat dari akad ijarah. Semoga dapat menambah wawasan dan infomari terkait akad ijarah.

Add a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.