Rukun dan Syarat Akad Ijarah

Selama melakukan traksaksi dalam perbankan syariah pada umumnya akan disajikan beberapa akad ketika melakukan perjanjia. Baik untuk produk simpanan (tabungan) ataupun produk pinjaman dana (usaha, beli barang, atau multiguna). Pada artikel ini syariahbanl.com akan sedikit berbagi informasi mengenai Rukun dan Syarat Akad Ijarah.

Pengertian

Ijarah berasal dari bahasa Arab yaiu Al Ajru yang berarti Al ‘Iwadhu atau imbalan atau lebih dikenal dengan ganti atau upah. Dalam ekonomi syariah yang sudah dikenal Akad Al Ijarah  memiliki pengertian yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang itu sendiri.

Rukun Ijarah

Seperti halnya akad ataupun perjanjian lainnya, ada beberapa rukun atau pondasi yang harus dilengkapi. Adapun rukun akad ijarah antara lain:

  1. Adanya ‘Aqid (orang yang akad). Orang yang akad terdiri dari Mu’ajir (pengupah/menyewakan) dan Musta’jir (upaha/penyewa). Kedua pihak yang akan melakukan akad harus memiliki syarat antara lain : Baligh, berakal, cakap dalam mengendalikan harta, dan saling meridhoi.
  2. Shigat Akad atau ijab Kabul. Dalam melakukan Ijab dan Qabul ini haruslah menggunakan kalimat yang jelas dan terbuka sehingga dimengerti da dipahami oleh pihak penyewa.
  3. Ujrah (Upah). Besar upah yang dikeluarkan haruslah diketahui oleh kedua belah pihak.
  4. Manfaat. Selalu perhatikan manfaat yang akan didapat ketika akan melakukan akad Ijarah ataupun akad perjanjian lainnya.

Syarat Akad Ijarah

Setelah mengetahui Rukun Ijarah, maka selanjutnya yang harus diketahui adalah Syarat akad Ijarah, beikut diantanya:

  1. Syarat Terjadinya akad.

Syarat Terjadinya akad ini berkaitan dengan ‘Aqid, Zat dan tempat akad. Ketiga hal ini harus diketahui oleh pihak yang akan melakukan akad. Seperti untuk ‘Aqid (telah dijelaskan pada bagian Rukun Ijarah) dimana sebaiknya Baligh, berakal, cakap dalam mengendalikan harta, dan saling meridhoi. Akan tetapi menurut oendapat Ulama Hanafiyah, seorang ‘Aqid haruslah berusia minimal 7 tahun dan tidak harus baligh.

BACA JUGA:  Tips: Menyikapi Kartu ATM Hilang, Patah dan Rusak

      2. Syarat Pelaksanaan Akad

Barang yang dimiliki oleh penyewa haruslah dimiliki sepenuhnya atau memiliki kekuasaan atas barang tersebut.  Jadi, apabila barang yang akan di sewakan tidak memiliki kekuasaan penuh atau mendapatkan izin dari pemilik barang oleh penyewa maka perjanjian atau akad ijarah tidak akan sah.

      3. Syarat Sah Ijarah

Sah nya akad ijarah berkaitan dengan adanya orang yang akad, keridhaan dari kedua belah pihak yang melakukan akad, dan barang yang menjadi objek akad memiliki manfaat yang jelas. Selain itu, dalam melakukan akad ini, barang yang akan di akad harus dijelaskan kepada pihak penyewa. Baik manfaat, pembatasan waktu, atau juga menjelaskan jenis pekerjaan dan lingkup pekerjaan apabila yang akan di akad adalah pekerjaan atau jasa seseorang.

     4. Syarat kelaziman

Syarat yang terakhir adalah syarat kelaziman. Syarat ini meliputi:

  1. Mauquf ‘alaih (barang sewaan) terhindar dari cacat
  2. Tidak ada uzur yang dapat membatalkan akad. Uzur yang dimaksud adalah sesuatu yang baru yang menyebabkan kemadharatan bagi yang akad.

Itu tadi sedikit informasi terkait akad Rukun dan Syarat Akad Ijarah. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah informasi dan wawasan terkaid Akad terutama Akad Ijarah serta ekonomi syariah pada umumnya. Terimakasih telah berkunjung di Syariahbank.com.

Add a Comment